Motivasi di Balik Perilaku People Pleaser
Motivasi di Balik Perilaku People Pleaser: Menggali Akar Ketidakamanan Diri
Artikel ini menggali motivasi yang mendasari perilaku "people pleaser" atau mereka yang cenderung selalu mengutamakan keinginan orang lain di atas keinginan mereka sendiri. Kami menjelajahi alasan psikologis yang mendasari perilaku ini, dengan fokus pada perasaan ketidakamanan diri yang melatarbelakangi motivasi mereka. Selain itu, artikel ini juga menguraikan dampak negatif yang mungkin terjadi akibat perilaku "people pleaser" yang berlebihan dan memberikan beberapa strategi untuk membantu orang-orang dalam menghadapi masalah ini.
Perilaku "people pleaser" merujuk pada kecenderungan seseorang untuk selalu berusaha memuaskan orang lain dan mengutamakan keinginan mereka, bahkan ketika itu berarti mengorbankan kebutuhan dan keinginan pribadi mereka sendiri. Perilaku ini sering kali muncul sebagai respons terhadap perasaan ketidakamanan diri yang mendalam, yang mendorong seseorang untuk mencari penerimaan, persetujuan, dan cinta dari orang lain. Dalam artikel ini, kami akan menggali motivasi di balik perilaku "people pleaser" dan menjelaskan mengapa mereka cenderung melakukannya.
1. Akar Ketidakamanan Diri
Salah satu motivasi utama di balik perilaku "people pleaser" adalah perasaan ketidakamanan diri yang mendasar. Orang-orang yang mengalami ketidakamanan diri sering merasa tidak layak mendapatkan perhatian dan kasih sayang tanpa memberikan sesuatu yang berharga atau melakukan segala yang mereka bisa untuk memuaskan orang lain. Motivasi ini mungkin berasal dari pengalaman masa kecil di mana mereka merasa bahwa cinta dan persetujuan hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan dan kepatuhan.
2. Kebutuhan untuk Diterima dan Dicintai
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan yang kuat untuk diterima dan dicintai oleh orang lain. Bagi orang-orang yang menjadi "people pleaser", kebutuhan ini sering kali sangat mendesak. Mereka berharap bahwa dengan selalu memenuhi keinginan orang lain, mereka akan mendapatkan persetujuan, pujian, dan cinta yang mereka inginkan. Oleh karena itu, perilaku "people pleaser" menjadi cara mereka untuk mencapai rasa pengakuan sosial dan mengurangi perasaan ketidakamanan diri mereka.
3. Rasa Tanggung Jawab Berlebihan
Seorang "people pleaser" seringkali merasa memiliki tanggung jawab yang berlebihan terhadap kebahagiaan dan kepuasan orang lain. Mereka merasa bahwa mereka bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan orang lain, bahkan jika itu berarti mengesampingkan kebutuhan dan keinginan pribadi mereka. Hal ini sering kali disebabkan oleh ketakutan akan penolakan atau konsekuensi negatif jika mereka tidak memenuhi ekspektasi orang lain.
Adapun beberapa dampak dari menjadi seseorang yang people pleaser, karena meskipun perilaku "people pleaser" tampaknya bersifat positif karena mereka berusaha membantu orang lain, terlalu banyak mengutamakan keinginan orang lain dapat memiliki dampak negatif yang signifikan. Beberapa dampak negatif tersebut meliputi:
1. Penekanan dan kehilangan identitas diri.
2. Kepuasan pribadi yang rendah dan perasaan terjebak.
3. Kehilangan hubungan yang sehat karena kurangnya keseimbangan dan batasan.
4. Kehilangan kesempatan untuk berkembang dan mencapai tujuan pribadi.
5. Stres dan kelelahan yang berkepanjangan akibat menjaga harapan orang lain.
Strategi untuk Mengatasi Perilaku "People Pleaser", jika Anda mengidentifikasi diri Anda sebagai "people pleaser" dan ingin mengatasi perilaku ini, ada beberapa strategi yang dapat membantu:
1. Tingkatkan kesadaran diri tentang motivasi dan perasaan Anda.
2. Kenali dan tetapkan batasan pribadi yang sehat.
3. Belajar mengatakan "tidak" tanpa rasa bersalah.
4. Kembangkan kepercayaan diri dan menghargai diri sendiri.
5. Cari dukungan dari orang-orang yang memahami dan mendukung perubahan Anda.
Perilaku "people pleaser" muncul dari motivasi yang kompleks dan seringkali terkait dengan perasaan ketidakamanan diri yang mendalam. Orang-orang yang menghadapi tantangan ini harus belajar mengenali motivasi mereka, mengatasi ketidakamanan diri, dan menetapkan batasan pribadi yang sehat. Dengan melakukannya, mereka dapat mencapai keseimbangan yang lebih baik antara keinginan orang lain dan kebutuhan pribadi mereka, mengembangkan kepercayaan diri yang kuat, dan hidup dengan lebih autentik dan memuaskan.
Referensi :
Gazipura, Dr. Aziz. 2017. Not Nice: Stop People Pleasing, Staying Silent, & Feeling Guilty... And Start Speaking Up, Saying No, Asking Boldly, and Unapologetically Being Yourself.

Komentar
Posting Komentar