Kenapa seseorang bisa merasakan perasaan bersalah dalam perselingkuhan?
Perasaan Bersalah dalam Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah tindakan yang melibatkan ketidaksetiaan terhadap pasangan atau hubungan yang ada. Bagi banyak orang, perselingkuhan tidak hanya melibatkan ketidaksetiaan fisik, tetapi juga melibatkan aspek emosional. Ketika seseorang terlibat dalam perselingkuhan, perasaan bersalah sering kali muncul sebagai reaksi alami terhadap tindakan tersebut. Artikel ini akan menjelaskan mengapa seseorang bisa merasakan perasaan bersalah dalam perselingkuhan, baik dari perspektif psikologis maupun etis. Secara psikologi, hal ini juga memiliki peran penting dalam memahami mengapa seseorang bisa merasakan perasaan bersalah dalam perselingkuhan.
Berikut adalah beberapa alasannya:
Kesadaran dan Kognisi
Psikologi kognitif menjelaskan bahwa perasaan bersalah dalam perselingkuhan terkait dengan kesadaran individu akan melanggar komitmen dan norma-norma yang telah mereka tetapkan. Individu menyimpan representasi mental tentang hubungan mereka dan memiliki pemahaman tentang apa yang diharapkan dalam hubungan tersebut. Ketika mereka terlibat dalam perselingkuhan, kesadaran akan pelanggaran ini memicu perasaan bersalah.
Empati dan Emosi
Empati, yaitu kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain, juga memainkan peran penting dalam perasaan bersalah dalam perselingkuhan. Psikologi emosi menjelaskan bahwa individu yang berselingkuh mungkin merasakan empati terhadap pasangan mereka dan dapat membayangkan perasaan sakit dan kekecewaan yang akan mereka alami jika mengetahui perselingkuhan tersebut. Empati ini memicu perasaan bersalah sebagai respons emosional terhadap pengkhianatan yang mereka lakukan.
Konflik Internal dan Self-Regulation
Psikologi juga memperjelas adanya konflik internal yang terjadi dalam diri individu yang berselingkuh. Terlibat dalam perselingkuhan dapat memunculkan konflik antara keinginan untuk memenuhi kebutuhan emosional atau fisik yang tidak terpenuhi dengan komitmen terhadap pasangan. Konflik ini melibatkan mekanisme self-regulation, di mana individu harus mengatur perilaku dan emosi mereka sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan yang diinginkan. Jika individu menganggap kesetiaan sebagai nilai penting, konflik internal ini dapat memicu perasaan bersalah.
Dampak Psikologis dan Harga Diri
Perselingkuhan juga memiliki dampak psikologis yang signifikan pada individu yang terlibat. Psikologi kepribadian dan harga diri menjelaskan bahwa perselingkuhan dapat merusak harga diri individu dan memicu perasaan negatif tentang diri mereka sendiri. Rasa bersalah muncul sebagai respons terhadap pertentangan antara tindakan yang dilakukan dan persepsi diri yang diinginkan.
Proses Pemulihan dan Pertumbuhan
Psikologi juga memainkan peran dalam proses pemulihan dan pertumbuhan setelah perselingkuhan. Terapi individu atau terapi pasangan dapat membantu individu memahami akar perasaan bersalah, mengatasi konflik internal, memperbaiki harga diri, dan mengembangkan strategi untuk menghindari perselingkuhan di masa depan.
Secara keseluruhan, psikologi memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perasaan bersalah dalam perselingkuhan, termasuk kesadaran, empati, konflik internal, dampak psikologis, dan proses pemulihan. Dalam konteks perselingkuhan, pemahaman psikologis dapat membantu individu memahami diri mereka sendiri dan mengelola perasaan bersalah dengan cara yang konstruktif.
Referensi :
Fincham, F. D., & May, R. W. (2017). Infidelity in romantic relationships. Current Opinion in Psychology, 13.
Komentar
Posting Komentar