Ketika seorang Gen Z mendapati runtuhnya "Duniaku" dari versi dia, apa yang perlu dilakukan?

Gimana Jadinya Ketika “Dunianya” Gen Z Runtuh? 

Zaman sekarang, Gen Z, sering diserbu dengan segala tekanan dan tantangan yang nggak biasa. Dalam era teknologi yang makin canggih ini, dunianya kita banyak banget terkait sama identitas online, kaya media sosial, hubungan virtual, dan gimana cara pandang orang di dunia maya terhadap kita, gen Z.


Tapi, coba bayangin, saat "duniaku" dari versi online yang udah bangun dengan susah payahnya dan sebagai media pelampiasan ini hancur berantakan, gara-gara kegagalan atau kritik pedas atau perubahan hidup yang nggak nentu ini, lalu apa yang harus dilakukan?


Beri diri jeda terlebih dahulu

Pas udah ngerasa "duniamu" hancur, kamu wajib beri diri jeda sejenak dan tarik nafas yang dalam-dalam. Hindarin bereaksi dengan emosi kencang, lebih baik tenangkan pikiran dulu, biar bisa berpikir lebih jernih.


Pikirkan dengan Bijak

Sangat diperlukan pikiran apa sih sebenarnya yang bikin "duniaku" digital jadi hancur. Apakah ada kesalahan yang bisa diperbaiki, kritik yang bikin ngaca, atau kejadian yang nggak pernah disangka-sangka? Jujur pada diri sendiri dan pikirin dengan bijak buat mengenali masalahnya.


Jangan nyepelein perasaan yang kamu rasakan

Kalau identitas digital hancur, berasa banget pedihnya. Jangan diremehin perasaan seperti itu, tapi izinin diri buat merasa dan hadapi emosi yang muncul. Cari temen atau keluarga buat curhat atau malah mending cari bantuan dari ahlinya kalau perlu.


Stop bandingin diri

Mulai dari medsos seperti Tiktok, IG atau medsos lain sering bikin kita bandingin hidup sama orang lain, tapi itu justru bikin nggak sehat. Coba hindarin perbandingan sosial sama orang lain yang keliatannya lebih "sukses" atau "bahagia" di dunia maya. Ingat, yang kita liat di sana belum tentu realitanya.


Peluang buat berubah

Di balik krisis, pasti ada peluang buat belajar dan tumbuh. Cari kesempatan buat memperbaiki diri dan bangun identitas digital yang lebih kuat. Kamu bisa coba asah skill, eksplor hobi baru, atau perbaiki konten yang udah kamu buat sebelumnya.


Ngebatasi waktu di medsos

Kalau merasa stress sama identitas digital yang lalu, coba deh kurangin waktu kamu di media sosial. Alihkan perhatian ke interaksi langsung sama orang-orang di sekitar atau kegiatan yang bikin pikiran lebih adem. Misalnya olahraga, quality time dengan orang-orang terdekat. 


Jadi diri sendiri

Setelah lewat krisis, godaan buat merubah citra online dengan yang nggak asli pasti ada. Tapi, tetaplah jadi diri sendiri, karena keaslian itu jauh lebih menarik daripada jadi orang lain di dunia maya.


Jangan takut coba lagi

Kalau bener-bener sulit memperbaiki "duniaku" online, jangan takut buat nyoba lagi dari awal. Mungkin kamu bisa ciptain identitas digital yang baru, lebih dewasa, dan bijaksana berdasarkan pengalaman yang udah lewat lalu.



Jadi, itulah cara-cara buat menghadapi krisis "duniaku" dari versi online. Ingatlah, kamu nggak sendirian kok, dan selalu ada kesempatan buat belajar dan berkembang dalam perjalanan di dunia maya ini. Namun, jangan sampai kamu tertarik kedunia itu dan melupakan dunia real life kamu ya!



Referensi : 


Newport, Cal. 2019. Digital Minimalism: A Counterintuitive Approach to Living a Better Life in a Noisier World.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Ketergantungan?

Menghadapi dan Menyembuhkan Luka-luka Masa Kecil

Cara Atasi Rasa Malas